Minggu ini aku benar-benar bangga, soalnya aku sekarang sudah menjadi siswa SMA. Akupun sudah nggak pakai celana pendek lagi buat ke sekolah, sorry nggak level, sekarang aku sudah pakai celana panjang warna abu-abu. Meski warna favoritku biru, tapi aku buang jauh-jauh keinginanku buat pakai celana pendek warna biru buat ke sekolah. SMA yang aku masukin, SMA 1 Sooko. Adalah SMA terbaik yang ada di kotaku. Selain itu, sahabatku Bayu juga masuk di SMA 1 Sooko. Bagiku, Bayu bukan hanya seorang sahabat yang baik, tapi dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri (meski dia terkadang pelit).
Bel masuk telah berbunyi, aku dan Bayu masuk ke kelas kami masing-masing. Bayu di kelas X.8 sedangkan aku di kelas X.7. Letak kelas kami yang berdekatan, membuat kami sering bersama saat istirahat. Setelah mengikuti pelajaran matematika yang membosankan serta pelajaran geografi yang bikin ngantuk, akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa, aku dan Bayu duduk-duduk di depan kelas. Entah kenapa, Bayu selalu menolak jika aku ajak ke kantin, kecuali jika aku mengucapkan kata ajaib “aku traktir” dia baru bersemangat ke kantin. Kamipun ngobrol hal-hal nggak penting buat ngisi waktu istirahat kami. Tiba-tiba ada beberapa cewek lewat didepan kami. Salah satu dari mereka ada yang aku kenal.
“Lho Yu, Vivi sekolah di sini juga ya ?” tanyaku.
“Lho kamu kok kenal vivi,?”
“ya dulu aku pernah diajak Dewa naik sepeda lewat depan rumahnya vivi.dan aku sempat lihat wajahnya.”kataku
“Oh, gitu. Iya dia sekolah disini, waktu dia daftar aja, aku ketemu dia.” kata Bayu
“Dia lumayan cantik juga ya Yu.” kataku
“Kenapa ? Kamu naksir dia ya ? “ tanya Bayu
“heh, ngawur kamu. Bukan berarti aku bilang dia cantik, tandanya aku naksir dia.”
“ Ya kali aja kamu naksir dia. “
“Eh Yu, jangan-jangan kamu yang naksir dia.” kataku sedikit curiga
“Nggak mungkin aku naksir saudaraku sendiri “ kata Bayu dengan wajahnya yang kalem
Aku begitu kaget mendengar Bayu bilang bahwa Vivi adalah saudaranya. Dari segi fisik nggak ada kemiripan antara Bayu dengan vivi, kecuali bahwa mereka sama-sama manusia. Lagipula selama tiga tahun aku kenal Bayu, nggak pernah sekalipun Bayu cerita bahwa dia punya saudara cewek yang cantik.
“Eh Yu, jangan ngawur, nggak mungkin kamu saudaranya vivi.”
“kamu nggak percaya yaudah, aku juga nggak rugi”
“Oke aku percaya kamu, tapi aku kok baru tahu?”
“Aku sendiri juga baru tahu, kata ibuku neneknya vivi itu adiknya nenekku, jadi kita saudara jauh.”
Ya ampun, Bayu benar-benar beruntung punya saudara seperti vivi. Sejak saat itu aku mulai berjanji bakal menjalin hubungan akrab sama vivi. Sebenarnya sih aku ingin jadi cowoknya, tapi aku sadar, tinggi badanku nggak cukup buat meraih bintang yang setinggi langit. Jadi aku ya sadar diri, diterima jadi sahabatnya aja aku udah ngerasa bersyukur. Apalagi waktu itu, aku juga lagi naksir sama cewek teman sekelasku sendiri.
Suatu hari aku lihat vivi sedang ngobrol dengan Bayu. Oke, aku anggap ini sebagai kesempatan emas buat akrab sama vivi. Aku kumpulin semangatku yang setinggi gunung berjalan mendekati Bayu dan vivi, namun tiba-tiba vivi berpamitan dengan Bayu ketika jarak antara aku dengan mereka tinggal beberapa langkah. Seketika itu semangatku yang setinggi gunung meletus dan menjadi kekecewaan yang sedalam jurang.
“Eh Yu, kenalin aku sama vivi dong ?”
“lho, bukannya kamu udah kenal dia. “
“iya, tapi dia kan nggak kenal aku”
“kata siapa, dia juga kenal kamu kok” kata Bayu
Aku benar-benar kaget, kok bisa vivi kenal aku. Apakah aku termasuk cowok yang terkenal. Sempat aku besar kepala, tapi tiba-tiba entah setan atau malaikat membisiku kata “Ngaca dulu dong, nggak usah Ge eR ngaku terkenal, emang tampang situ oke?”.
Setan sialan, seumur hidup baru kali ini aku ngerasa bangga sama diriku tapi kata-kata tadi bikin aku jadi minder lagi. Tapi jujur, aku masih heran darimana vivi tahu namaku. Jangan-jangan diam-diam vivi memperhatikanku. Kepalaku pun membesar lagi, tapi tiba-tiba setan sialan kembali membisikiku “Insyaf bos, nggak mungkin putri cantik memperhatikan pangeran kodok”. Sempat aku pengen marah sama setan sialan tapi tiba-tiba malaikat di sebelah kananku menyela dan aku harap yang keluar dari mulut malaikat itu adalah kata-kata yang menghiburku “eh setan, kamu jangan salah dia bukan pangeran kodok”. Aku benar-benar menangis terharu mendengar pembelaan malaikat padaku. Lalu malaikat melanjutkan kata-katanya “dia bukan pangeran kodok. Dia sih, kodok aja nggak pakai pangeran”. Lalu tangis haruku berubah menjadi tangis penyesalan, kenapa aku punya tampang yang jauh dari oke.
Aku masih saja mencari cara biar bisa ngobrol sama vivi. Suatu hari aku sedang ngobrol sama teman-teman SMP ku yang kebetulan sekolah di SMA yang sama sepertiku. Tiba-tiba dia ikut gabung dengan kami, kali ini aku nyadar dia gabung dengan kami bukan karena ada aku, tapi emang beberapa teman SMP ku adalah teman sekelasnya. Akupun nggak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
“eh vi, kata Bayu kamu saudaranya Bayu ya?”
“Iya, aku emang saudaranya Bayu, tapi aku sendiri baru tahu jika dia itu saudaraku.”
Aku kaget, bukan karena jawabannya tetapi karena suaranya yang aneh, kata orang jawa, suaranya vivi itu cempreng. Aku kira cewek cantik suaranya pasti merdu, tapi itu nggak berlaku buat vivi. Suaranya sedikit merdu, tapi banyak fals nya. Aku sekarang baru tahu arti nggak ada manusia yang sempurna. Contohnya aja Vivi, dia cantik, pintar, secara fisik juga bagus. Tapi suaranya bener-bener nggak bakal
diterima di Indonesian Idol. Jangankan buat ikut audisi Indonesian Idol, dengan suara yang begitu aneh mungkin buat beli formulir pendaftaran aja dia udah di eliminasi.
Tapi keanehan suaranya nggak menghalangi kekagumanku terhadap vivi. Yang paling aku suka dari dia adalah bola matanya. Matanya begitu bulat indah, padahal dia memakai kacamata. Pada umumnya orang yang memakai kacamata pasti berpandangan sempit alias memiliki mata yang sipit. Tapi mata vivi benar-benar indah. Melihat kedua bola mata vivi, bagaikan makan wortel satu kilo. Benar-benar menyejukkan dan menyehatkan mataku.